Pages

Kamis, 11 September 2014

Menyikapi Perubahan



Perubahan merupakan sesuatu yang sunatullah, artinya segala sesuatu dalam kehidupan ini sudah pasti akan terus mengalami perubahan, karena perubahan sendiri merupakan ketetapan Tuhan yang tidak mungkin untuk dihindari. Kita bisa berkaca kepada diri sendiri, renungkanlah hal-hal yang pernah kita jalani selama hidup, yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Apakah ketika kita dilahirkan sudah dalam keadaan seperti sekarang? Apakah kita sekarang sama dengan kita pada tahun-tahun yang lalu? Jawabannya sudah pasti tidak.
Perubahan terjadi di dalam semua lini kehidupan, tidak terkecuali dalam sebuah bangsa, organisasi atau perusahaan. Dalam konteks perusahaan, Arie de Geus menandaskan bahwa sebuah perusahaan pada dasarnya merupakan sesosok makhluk hidup (a living organism). Karena ia hidup maka ia mengalami proses melahirkan, tumbuh, sakit, tua dan dapat mati seperti makhluk hidup yang lainnya. Kalau dalam perawatannya baik maka perusahaan tersebut akan bisa bertahan dari persaingan dan berumur panjang.
Kita bisa melihat banyak perusahaan-perusahaan yang dulunya besar kemudian harus terpaksa untuk gulung tikar atau paling tidak harus melakukan berbagai upaya efisiensi untuk sekedar bertahan dalam menghadapi persaingan (perubahan) usaha dengan para kompetitor baru. Sebagai salah satu contoh untuk melihat bagaimana perubahan itu memakan korban, sebut saja merk Handphone Nokia dan BlackBerry, yang dulu sempat menjadi trendsetter dan menjadi simbol dari status sosial seseorang, kini kedua perusahaan tersebut harus berdarah-darah dan bahkan terpaksa harus menutup beberapa pabriknya karena market mereka mulai digerogoti secara serius oleh para kompetitornya terutama HP berbasis Android dan tentu saja Iphone dari Apple. Walaupun belum tentu gulung tikar, namun faktanya kedua perusahaan ini memang harus terus bekerja keras melakukan berbagai terobosan untuk memenangkan kembali persaingan.
Lalu apa yang mengakibatkan mereka bisa seperti itu? Apakah mereka tidak bisa mengantisipasi dan memprediksi peta perubahan yang akan terjadi?  Bisa saja. Namun salah satu faktor utama adalah jebakan dengan “kesuksesan masa lalu”. Mereka sudah merasa puas dengan apa yang sudah mereka raih dan dapatkan. Padahal seperti yang dikatakan oleh Peter Drucker, bahwa bahaya terbesar dalam perubahan bukanlah pada perubahannya, melainkan “cara berpikir kemarin” yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang. Mereka lupa bahwa setiap saat, setiap waktu akan tumbuh pesaing-pesaing baru dengan keanekaragaman ciri khas dan keungulan yang coba untuk ditawarkan. Akan muncul trend-trend baru yang kemudian akan menggantikan trend-trend lama yang tentu kesemuanya itu akan berpengaruh banyak terhadap keberadaan perusahaan kita. Mudahnya pertukaran akses informasi dan juga pertukaran karyawan, mau tidak mau, suka atau tidak suka, sangat mustahil bagi sebuah perusahaan untuk bisa memprotek 100% produk yang mereka ciptakan dari penjiplakan para kompetitor. Prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) menjadi modal yang cukup ampuh didalam sebuah persaingan, bahkan tak jarang produk-produk ATM bisa lebih bagus, lebih sukses dan lebih disukai oleh market.
Merubah atau diubah? Dalam kehidupan social tidak ada sebuah perubahan yang terjadi dengan alamiah. Semuanya penuh dengan rekayasa sosial yang memang sengaja diciptakan (social enginering). Sehingga dalam menghadapi dan mengarungi kehidupan ini kita akan dihadapkan pada dua buah pilihan, kita yang menciptakan perubahan sendiri atau justru kita yang harus mengikuti perubahan yang diciptakan oleh orang lain.
Pada pilihan pertama, memberikan banyak ruang kepada kita untuk bisa merancang, memilih, mengkreasikan dan mewujudkan berbagai keinginan dari sisi idealisme kita sendiri.  Sedangkan pada pilihan kedua cenderung membelenggu dan memaksa kita untuk turut pada skenario yang dirancang oleh orang lain.
Kembali kepada konteks perusahaan, apakah ada jaminan perusahaan tempat kita bekerja akan terus ada dan bisa bertahan ditengah arus perubahan yang semakin cepat serta susah untuk diprediksi seperti sekarang ini. Tentu butuh sebuah perenungan dan analisis yang mendalam untuk bisa menjawabnya. Namun kita bisa belajar dan meminjam teori evolusinya Charles Darwin. Dia mengatakan “Bukan yang terkuat yang mampu berumur panjang, melainkan yang paling adaftif”. Perusahaan kita akan tetap bertahan memenangkan persaingan serta berumur panjang apabila selalu bisa menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi. Makhluk hidup berevolusi untuk mempertahankan kehidupan dan meneruskan keturunan. Dalam evolusi itu, kadang makhluk hidup harus menoleh kebelakang untuk memaknai kehidupannya dimasa yang akan datang. Tetapi ternyata untuk saat sekarang ini tidak cukup hanya sekedar belajar dari masa lalu, kita harus juga belajar untuk melihat masa depan. Kita harus pintar dalam melihat berbagai kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Dalam bahasa manajemennya kita harus memiliki keahlian Visioning dan Trand Wacthing. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah dalam ushul fiqh bahwa “Kita tetap harus memelihara nilai-nilai lama yang baik tapi juga tidak menutup diri untuk mengambil nilai-nilai baru yang sekiranya lebih baik”.
Bahkan jauh sebelum orang-orang berbicara tentang manajemen perubahan, Rosulullah Saw sudah memberikan sebuah isyarat kepada kita tentang pentingnya sikap terbaik dalam menghadapi perubahan. Dalam sebuah hadist-Nya dikatakan bahwa “Orang-orang yang akan beruntung adalah orang-orang yang apabila hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin, sedangkan orang-orang yang akan rugi adalah orang-orang yang hari ini sama dengan hari kemarin dan akan lebih buruk lagi (bangkrut) kalau hari ini lebih jelek dari hari kemarin”.
Muhammad Asep Zaelani (Pekerja social, praktisi CSR/Community Development, Gusdurian)