Perubahan merupakan sesuatu yang sunatullah, artinya
segala sesuatu dalam kehidupan ini sudah pasti akan terus mengalami perubahan,
karena perubahan sendiri merupakan ketetapan Tuhan yang tidak mungkin untuk
dihindari. Kita bisa berkaca kepada diri sendiri, renungkanlah hal-hal yang
pernah kita jalani selama hidup, yang mungkin selama ini luput dari perhatian
kita. Apakah ketika kita dilahirkan sudah dalam keadaan seperti sekarang?
Apakah kita sekarang sama dengan kita pada tahun-tahun yang lalu? Jawabannya
sudah pasti tidak.
Perubahan
terjadi di dalam semua lini kehidupan, tidak terkecuali dalam sebuah bangsa,
organisasi atau perusahaan. Dalam konteks perusahaan, Arie de Geus menandaskan bahwa sebuah
perusahaan pada dasarnya merupakan sesosok makhluk hidup (a living
organism). Karena ia hidup maka ia mengalami proses melahirkan, tumbuh,
sakit, tua dan dapat mati seperti makhluk hidup yang lainnya. Kalau dalam
perawatannya baik maka perusahaan tersebut akan bisa bertahan dari persaingan
dan berumur panjang.
Kita bisa melihat banyak perusahaan-perusahaan yang dulunya
besar kemudian harus terpaksa untuk gulung tikar atau paling tidak harus
melakukan berbagai upaya efisiensi untuk sekedar bertahan dalam menghadapi
persaingan (perubahan) usaha dengan para kompetitor baru. Sebagai salah satu
contoh untuk melihat bagaimana perubahan itu memakan korban, sebut saja merk
Handphone Nokia dan BlackBerry, yang dulu sempat menjadi trendsetter dan
menjadi simbol dari status sosial seseorang, kini kedua perusahaan tersebut
harus berdarah-darah dan bahkan terpaksa harus menutup beberapa pabriknya
karena market mereka mulai digerogoti secara serius oleh para kompetitornya
terutama HP berbasis Android dan tentu saja Iphone dari Apple. Walaupun belum
tentu gulung tikar, namun faktanya kedua perusahaan ini memang harus terus
bekerja keras melakukan berbagai terobosan untuk memenangkan kembali
persaingan.
Lalu
apa yang mengakibatkan mereka bisa seperti itu? Apakah mereka tidak bisa
mengantisipasi dan memprediksi peta perubahan yang akan terjadi? Bisa
saja. Namun salah satu faktor utama adalah jebakan
dengan “kesuksesan masa lalu”.
Mereka sudah merasa puas dengan apa yang sudah mereka raih dan dapatkan.
Padahal seperti yang dikatakan oleh Peter
Drucker, bahwa bahaya terbesar dalam perubahan bukanlah pada perubahannya,
melainkan “cara berpikir kemarin” yang masih dipakai untuk memecahkan masalah
sekarang. Mereka lupa bahwa setiap saat, setiap waktu akan tumbuh
pesaing-pesaing baru dengan keanekaragaman ciri khas dan keungulan yang coba
untuk ditawarkan. Akan muncul trend-trend baru yang kemudian akan menggantikan
trend-trend lama yang tentu kesemuanya itu akan berpengaruh banyak terhadap
keberadaan perusahaan kita. Mudahnya pertukaran akses informasi dan juga pertukaran
karyawan, mau tidak mau, suka atau tidak suka, sangat mustahil bagi sebuah
perusahaan untuk bisa memprotek 100% produk yang mereka ciptakan dari
penjiplakan para kompetitor. Prinsip ATM
(Amati, Tiru, Modifikasi) menjadi modal yang cukup ampuh didalam sebuah
persaingan, bahkan tak jarang produk-produk ATM bisa lebih bagus, lebih sukses
dan lebih disukai oleh market.
Merubah atau diubah? Dalam kehidupan social tidak ada sebuah
perubahan yang terjadi dengan alamiah. Semuanya penuh dengan rekayasa sosial
yang memang sengaja diciptakan (social enginering). Sehingga dalam
menghadapi dan mengarungi kehidupan ini kita akan dihadapkan pada dua buah
pilihan, kita yang menciptakan perubahan
sendiri atau justru kita yang harus mengikuti perubahan yang diciptakan oleh
orang lain.
Pada
pilihan pertama, memberikan banyak ruang kepada kita untuk bisa merancang,
memilih, mengkreasikan dan mewujudkan berbagai keinginan dari sisi idealisme
kita sendiri. Sedangkan pada pilihan kedua cenderung membelenggu dan
memaksa kita untuk turut pada skenario yang dirancang oleh orang lain.
Kembali kepada konteks perusahaan, apakah ada jaminan
perusahaan tempat kita bekerja akan terus ada dan bisa bertahan ditengah arus
perubahan yang semakin cepat serta susah untuk diprediksi seperti sekarang ini.
Tentu butuh sebuah perenungan dan analisis yang mendalam untuk bisa
menjawabnya. Namun kita bisa belajar dan meminjam teori evolusinya Charles Darwin. Dia mengatakan “Bukan yang terkuat
yang mampu berumur panjang, melainkan yang paling adaftif”. Perusahaan kita akan tetap bertahan
memenangkan persaingan serta berumur panjang apabila selalu bisa menyesuaikan
diri terhadap setiap perubahan yang terjadi. Makhluk hidup berevolusi untuk
mempertahankan kehidupan dan meneruskan keturunan. Dalam evolusi itu, kadang
makhluk hidup harus menoleh kebelakang untuk memaknai kehidupannya dimasa yang
akan datang. Tetapi ternyata untuk saat sekarang ini tidak cukup hanya sekedar
belajar dari masa lalu, kita harus juga belajar untuk melihat masa depan. Kita
harus pintar dalam melihat berbagai kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
Dalam bahasa manajemennya kita harus memiliki keahlian Visioning dan Trand
Wacthing. Hal ini sesuai dengan salah satu kaidah dalam ushul fiqh bahwa “Kita tetap
harus memelihara nilai-nilai lama yang baik tapi juga tidak menutup diri untuk
mengambil nilai-nilai baru yang sekiranya lebih baik”.
Bahkan
jauh sebelum orang-orang berbicara tentang manajemen perubahan, Rosulullah Saw sudah memberikan sebuah
isyarat kepada kita tentang pentingnya sikap terbaik dalam menghadapi
perubahan. Dalam sebuah hadist-Nya dikatakan bahwa “Orang-orang yang akan beruntung
adalah orang-orang yang apabila hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin,
sedangkan orang-orang yang akan rugi adalah orang-orang yang hari ini sama
dengan hari kemarin dan akan lebih buruk lagi (bangkrut) kalau hari ini lebih
jelek dari hari kemarin”.
Muhammad Asep Zaelani (Pekerja social, praktisi CSR/Community
Development, Gusdurian)


