Mengenang Rachel Corrie Lagi 16 Maret 2003, Rachel Corrie, seorang perempuan muda warga negara
Amerika Serikat, meninggal dunia dengan cara yang tragis: dilindas
buldoser Israel buatan AS. Hari itu, Corrie ada di Kota Rafah,
Palestina, bersama teman-temannya dari International Solidarity
Movement, menyaksikan penyerbuan tentara Israel ke kota itu. Dengan
dalih mencari “teroris”, tentara Israel menyerang Rafah dengan amunisi
lengkap.
Peluru-peluru berdesing, tank bergerak mencari mangsa, dan buldoser
merubuhkan rumah-rumah warga setempat. Corrie mendidih melihat semua
itu. Tatkala melihat sebuah buldoser Israel hendak menghancurkan sepetak
rumah warga Palestina, Corrie berlari menyongsongnya. Mengenakan jaket
jingga terang, Corrie berdiri tegap di depan buldoser itu. Tapi buldoser
tak berhenti. Teriakan para warga tak digubris. Naas, Corrie akhirnya
terlindas buldoser itu. Ia menemu ajal di Rumah Sakit Najar.
Hari itu Corrie memang telah tiada, tapi kita bisa membaca jejak
perjuangannya hingga kini dari catatan hariannya. Agustus 2008 lalu,
buku yang berisi kumpulan catatan harian Rachel Corrie telah
diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendirian).
Buku setebal 526 halaman yang diterbitkan Madia Publisher itu memuat
pemikiran-pemikiran Corrie perihal perang, kemanusiaan, gaya hidup
masyarakat modern, dan berbagai soal lainnya. Buku itu merupakan risalah
yang mengecam perang sebagai sesuatu yang menodai kemanusiaan.
Pengkotakan manusia karena perang, menurut Corrie, adalah sesuatu yang
keji sebab manusia sebenarnya adalah saudara. “Mereka adalah kita. Kita
adalah mereka,” begitu kata Corrie.
Lahir dari Olympia, AS, Corrie telah menjadi relawan kemanusiaan
sejak usia belia—ia meninggal pada usia yang juga amat muda: 23 tahun.
Keprihatinannya terhadap perang dan tragedi kemanusiaan mulai menemukan
bentuknya tatkala ia tiba di Rusia sebagai relawan International
Solidarity Movement. Saat itu, sebagaimana termaktub dalam catatan
hariannya, Corrie mulai merasakan Amerika sebagai sesuatu yang asing.
“Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan
terlipat di pinggiran pikiranku….” tulis Corrie dalam catatan
hariannya.
Buku Let Me Stand Alone merupakan contoh yang menarik
tentang bagaimana para perempuan yang menyaksikan perang dan kekerasan
dari dekat kemudian mengekspresikan gagasannya melalui medium tulisan.
Sejarah mencatat, cukup banyak perempuan yang terlibat dalam perang
kemudian menuliskan catatan harian atau sebuah risalah khusus mengenai
perang.
Laksmi Pamuntjak pernah menulis kajian apik perihal dua perempuan
yang sama-sama menulis buku soal perang: Simone Weil dan Rachel
Bespaloff. Dalam buku bertajuk Perang, Langit, dan Dua Perempuan
(Nalar, 2006), Laksmi mengisahkan bagaimana Weil dan Bespaloff bergulat
dengan realitas Perang Dunia Kedua dan kemudian sama-sama mencoba
melakukan tafsir atas kekerasan yang gila itu. Uniknya, keduanya
sama-sama menafsirkan perang dan kemanusiaan melalui epos terkenal karya
Homeros, Illiad.
Weil dan Bespaloff—keduanya sama-sama keturunan Yahudi yang tinggal
di Prancis saat perang mulai merajalela—tampaknya mencoba menganalogikan
Perang Dunia Kedua dengan Perang Troya yang dikisahkan dalam Illiad. Esai Weil soal Illiad terbit pertama kali tahun 1940 dengan judul L’Illiade, ou le poeme de la force yang berarti Illiad, atau Sebuah Puisi tentang Kekerasan.
Sementara itu, esai Bespaloff—yang sering dianggap merupakan tanggapan
atas esai Weil meski Bespaloff sendiri menampik tudingan itu—terbit
tahun 1943 dengan judul De l’Illiade. Kedua esai itu kemudian disatukan dalam buku War & Illiad pada 2005.
Sama-sama perempuan yang mencoba menafsir Illiad, menurut
Laksmi, Weil dan Bespaloff menghasilkan renungan yang berbeda soal
perang. Weil lebih pasifis: ia menolak kekerasan dalam bentuk apapun
sehingga baginya manusia yang terlibat dalam perang—baik mereka yang
baik atau jahat—sebenarnya sama saja. Mereka yang terlibat dengan
kekerasan—dengan niat baik atau jahat—bagi Weil, akan menuju akhir yang
sama: kehancuran.
Sementara itu, Bespaloff melihat perang dengan sebuah sikap rendah
hati yang tak hitam putih: perang tidak hanya berisi kekejian yang
menggila, tapi juga hal-hal yang patut dikagumi, seperti semangat
manusia berkorban demi sesamanya. Bagi Bespaloff, terlibat dalam suatu
perang tak mengharuskan manusia berhenti memiliki harapan dan kebaikan.
Perempuan lain yang tersohor karena catatannya mengenai perang adalah
Anne Frank. Tak tanggung-tanggung, ia adalah tokoh yang oleh Majalah Times
dimasukkan ke dalam satu dari 100 Tokoh Abad 20 bersama nama-nama besar
dunia seperti Lenin, Stalin, Mahatma Gandhi, dan Roosevelt. Anne Frank
adalah gadis belia asal Belanda yang bersembunyi selama dua tahun saat
tentara Nazi Jerman menyerang negerinya.
Buku hariannya merekam hari-hari Anne dalam masa sembunyi itu dan
bagaimana perubahan dramatis terjadi di negerinya selama Perang Dunia
Kedua. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan
judul Catatan Harian Anne Frank (Jalasutra, 2006) itu telah
dibaca lebih dari 10 juta manusia dan menjadi salah satu autobiografi
yang paling disukai sepanjang waktu.
Sama seperti catatan Corrie serta esai Bespaloff dan Weil, buku Anne
Frank mengingatkan kita betapa kekerasan dan perang bukan hanya
menghasilkan penderitaan yang memedihkan. Di tengah perang dan
kekerasan, manusia juga bisa menuliskan catatan yang menginspirasikan
banyak orang. Risalah-risalah itu adalah mutiara yang bersinar di antara
tumpukan mayat, genangan darah, dan isak tangis manusia akibat perang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar