Kalau ada pertanyaan ditujukan kepada Pegawai, “Apa target
akhir karir anda dalam bekerja?”, sudah tentu banyak yang menjawab “Menduduki
sebuah jabatan”. Memang demikian adanya dalam sistem birokrasi yang strukturnya
berbasis eselonering, istilah mengejar jabatan tidaklah diharamkan karena
itulah puncak karir seseorang, duduk di eselon setinggi-tingginya. Hal ini
dalam kenyataannya sering menimbulkan perilaku pegawai yang negatif untuk
mencapai tujuan tersebut. Perilaku negatif para pegawai Pengejar Jabatan ini lebih
populer dengan istilah “Tukang Ngolor”.
Apa itu tukang Ngolor, yaitu pegawai
yang pekerjaannya hanya berusaha bagaimana caranya agar atasan merasa senang
atau Asal Bapak Senang (ABS). Ciri-ciri orang seperti ini biasanya senang
menyanjung atasan, selalu melaporkan hal yang baik-baik saja bahkan saat ada
hasil kerja yang kurang baik akan berusaha untuk ditutup-tutupi, ciri lain yang
membuat tipe orang seperti ini semakin terlihat adalah dia tidak segan
menjatuhkan rekan kerja di hadapan atasan, demi supaya hanya dialah yang
mendapatkan nilai plus dimata atasan.
Mengapa budaya Ngolor atau Asal
Bapak Senang (ABS) seperti ini bisa berkembang ? menurut hemat saya adalah karena masih lemahnya sistem penilaian aturan
yang telah dibuat. Seperti kita ketahui bersama bahwa pengukuran kinerja pegawai
selama ini masih mengacu pada Surat Keputusan yang telah dibuat tetapi tidak dipergunakan
sebagaimana mestinya. Hal ini tidak jarang mengakibatkan penilaian seseorang
menjadi “terlalu tinggi” bahkan istimewa atas kompromi atasan untuk meluluskan
hasil dari tes pegawai dengan nilainya sangat baik, memang lucu jadinya, tapi itulah yang terjadi
Walau dalam surat keputusan
perusahaan untuk penilaian atau kopetensi jabatan sudah diatur dan dititikberatkan
pada penilaian terhadap bobot kerja pegawai.. Target dan realisasi ini
digolongkan dalam penilaian Prestasi Kerja. Untuk menyeimbangkan antara
Prestasi Kerja dan Perilakunya maka ada pula penilaian kedisiplinan. Terdengar
sangat idealis bukan? entah kapan direalisasikan.
Aturan atau keputusan sudah tidak
bisa dijadikan pegangan untuk menilai seseorang pegawai dan bagaimana membuat alternatif lain untuk meredam budaya ngolor
ini. Karena “Kompetensi” sudah tidak pas untuk dijadikan suatu penilaian kemampuan
dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang pegawai berupa pengetahuan,
keahlian dan sikap perilaku yang diperlukan dalam melaksanakan tugas
jabatannya, sehingga Pegawai tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya secara
profesional, efektif dan efisien. Salah satu peraturan yang telah dibuat yaitu
kompetensi pegawai adalah Keputusan yang tidak cocok dibilang Pedoman
Penyusunan Kompetensi Jabatan Struktural maupun Fungsional.
Apabila Standar kompetensi ini
benar-benar diterapkan oleh setiap Perusahaan maka ini akan sangat membantu
bagi para pemangku kebijakan untuk menempatkan orang sesuai dengan bidang
keahliannya, the right man on the
right place. karena adanya kriteria yang jelas dalam menentukan
siapa akan ditugaskan dimana. Akan tetapi semua berpulang kepada paradigma yang
secara umum masih berlaku di lingkungan birokrasi bahwa jabatan adalah
kepercayaan, maka memberikan jabatan sering hanya kepada orang yang
dipercayainya, yang dekat secara pribadi dan yakin akan selalu mendukung
kebijakan atasannya.
Paradigma lain yang menjadi kecemburuan
adalah kesemena-menaan dalam menempatkan jabatan pada keahlian yang bukan
ahlinya sesuai Surat Keputusan tentang karir dalam jabatan struktural maupun fungsional.
Jadi memiliki kompetensi jabatan
yang diperlukan, serta golongan
yang telah mencukupi yang kita tahu adalah pengurutan senioritas Pegawai
berdasar pada aturan tidaklah gampang untuk pegawai menduduki suatu Jabatan
kalau semua aturan dapat diabaikan.
Masa Kerja, Pendidikan dan Pelatihan
yang diutamakan dimana hal ini dijadikan syarat utama untuk kenaikan
Jabatan hanya hiasan yang perlu untuk
dibaca saja bukan untuk dijadikan acuan yang telah diputuskan.
Apabila semua hal yang tidak ideal
diatas tidak terpenuhi maka kinerja pegawai terhadap kinerja perusahaan akan disorot
tajam, Saya kira inilah uraian yang sederhana tentang ABS atau Tukang Ngolor.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar