Pages

Selasa, 15 Juli 2014

Budaya Ngolor dan Kompetensi Jabatan



Kalau ada pertanyaan ditujukan kepada Pegawai, “Apa target akhir karir anda dalam bekerja?”, sudah tentu banyak yang menjawab “Menduduki sebuah jabatan”. Memang demikian adanya dalam sistem birokrasi yang strukturnya berbasis eselonering, istilah mengejar jabatan tidaklah diharamkan karena itulah puncak karir seseorang, duduk di eselon setinggi-tingginya. Hal ini dalam kenyataannya sering menimbulkan perilaku pegawai yang negatif untuk mencapai tujuan tersebut. Perilaku negatif para pegawai Pengejar Jabatan ini lebih populer dengan istilah “Tukang Ngolor”.

Apa itu tukang Ngolor, yaitu pegawai yang pekerjaannya hanya berusaha bagaimana caranya agar atasan merasa senang atau Asal Bapak Senang (ABS). Ciri-ciri orang seperti ini biasanya senang menyanjung atasan, selalu melaporkan hal yang baik-baik saja bahkan saat ada hasil kerja yang kurang baik akan berusaha untuk ditutup-tutupi, ciri lain yang membuat tipe orang seperti ini semakin terlihat adalah dia tidak segan menjatuhkan rekan kerja di hadapan atasan, demi supaya hanya dialah yang mendapatkan nilai plus dimata atasan.

Mengapa budaya Ngolor atau Asal Bapak Senang (ABS) seperti ini bisa berkembang ? menurut hemat saya  adalah karena  masih lemahnya sistem penilaian aturan yang telah dibuat. Seperti kita ketahui bersama bahwa pengukuran kinerja pegawai selama ini masih mengacu pada Surat Keputusan  yang telah dibuat tetapi tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Hal ini tidak jarang mengakibatkan penilaian seseorang menjadi “terlalu tinggi” bahkan istimewa atas kompromi atasan untuk meluluskan hasil dari tes pegawai dengan nilainya sangat baik,  memang lucu jadinya, tapi itulah yang terjadi

Walau dalam surat keputusan perusahaan untuk penilaian atau kopetensi jabatan sudah diatur dan dititikberatkan pada penilaian terhadap bobot kerja pegawai.. Target dan realisasi ini digolongkan dalam penilaian Prestasi Kerja. Untuk menyeimbangkan antara Prestasi Kerja dan Perilakunya maka ada pula penilaian kedisiplinan. Terdengar sangat idealis bukan? entah kapan direalisasikan.

Aturan atau keputusan sudah tidak bisa dijadikan pegangan untuk menilai seseorang pegawai dan bagaimana  membuat  alternatif lain untuk meredam budaya ngolor ini. Karena “Kompetensi” sudah tidak pas untuk dijadikan suatu penilaian kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang pegawai berupa pengetahuan, keahlian dan sikap perilaku yang diperlukan dalam melaksanakan tugas jabatannya, sehingga Pegawai tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efektif dan efisien. Salah satu peraturan yang telah dibuat yaitu kompetensi pegawai adalah Keputusan yang tidak cocok dibilang Pedoman Penyusunan Kompetensi Jabatan Struktural maupun Fungsional.

Apabila Standar kompetensi ini benar-benar diterapkan oleh setiap Perusahaan maka ini akan sangat membantu bagi para pemangku kebijakan untuk menempatkan orang sesuai dengan bidang keahliannya, the right man on the right place. karena adanya kriteria yang jelas dalam menentukan siapa akan ditugaskan dimana. Akan tetapi semua berpulang kepada paradigma yang secara umum masih berlaku di lingkungan birokrasi bahwa jabatan adalah kepercayaan, maka memberikan jabatan sering hanya kepada orang yang dipercayainya, yang dekat secara pribadi dan yakin akan selalu mendukung kebijakan atasannya.

Paradigma lain yang menjadi kecemburuan adalah kesemena-menaan dalam menempatkan jabatan pada keahlian yang bukan ahlinya sesuai Surat Keputusan tentang karir  dalam jabatan struktural maupun fungsional.

Jadi memiliki kompetensi jabatan yang diperlukan, serta golongan yang telah mencukupi yang kita tahu adalah pengurutan senioritas Pegawai berdasar pada aturan tidaklah gampang untuk pegawai menduduki suatu Jabatan kalau semua aturan dapat diabaikan.

Masa Kerja, Pendidikan dan Pelatihan yang diutamakan dimana hal ini dijadikan syarat utama untuk kenaikan Jabatan  hanya hiasan yang perlu untuk dibaca saja bukan untuk dijadikan acuan yang telah diputuskan.
Apabila semua hal yang tidak ideal diatas tidak terpenuhi maka kinerja pegawai  terhadap kinerja perusahaan akan disorot tajam, Saya kira inilah uraian yang sederhana tentang ABS atau Tukang Ngolor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar